Oleh: Jalod | 15/10/2008

AlQur’an dan Kamasutra


Wawancara KH Abdurrahman Wahid, biasa dipanggil Gus Dur, dengan Jaringan Islam Liberal (JIL) berjudul “Jangan Bikin Aturan Berdasarkan Islam Saja” yang dipublikasikan pada 10 April 2006 sarat dengan statemen kontroversial. Sayangnya, bila sekarang Anda mengunjungi situs JIL tersebut (terakhir penulis membuka pada 30 April 2006), lebih dari separuh transkrip wawancara (sengaja?) dihilangkan. Salah satu bagian transkrip yang dihapus adalah pernyataan Gus Dur tentang Alquran sebagai kitab suci paling porno di dunia. Entah mengapa di situs baru yang beralamatkan http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1036 statemen tersebut sudah tidak dijumpai lagi. Tetapi bila Anda berkesempatan mengunjungi situs lama di alamat http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=1028, Gus Dur terang-terangan menyebut kepornoan Alquran. Petikan wawancaranya: “Gus, ada yang bilang kalau kelompok-kelompok penentang RUU APP ini bukan kelompok Islam, karena katanya kelompok ini memiliki kitab suci yang porno?”. Jawaban Gus Dur, “Sebaliknya menurut saya. Kitab suci yang paling porno di dunia adalah Alqur’an, ha-ha-ha.. (tertawa terkekeh-kekeh)”. “Maksudnya?”. “Loh, jelas kelihatan sekali. Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut. Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu. Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?! Cabul dong ini. Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha….”.

Transkrip wawancara Gus Dur soal Kamasutra, “Jadi erotisme itu tidak mesti cabul, Gus?”. Gus Dur menjawab, ” Iya, tidak bisa. Anda tahu, kitab Rawdlatul Mu`aththar (The Perfumed Garden, Kebun Wewangian) itu merupakan kitab bahasa Arab yang isinya tatacara bersetubuh dengan 189 gaya, ha-ha-ha.. Kalau gitu, kitab itu cabul, dong? ha-ha-ha… Kemudian juga ada kitab Kamasutra. Masak semua kitab-kitab itu dibilang cabul? Kadang-kadang saya geli, mengapa Kyai-kyai kita, kalau dengerin lagu-lagu Ummi Kultsum—penyanyi legendaris Mesir—bisa sambil teriak-teriak “Allah… Allah…” Padahal isi lagunya kadang ngajak orang minum arak, ha-ha-ha.. Sangat saya sayangkan, kita mudah sekali menuding dan memberi cap sana-sini; kitab ini cabul dan tidak sesuai dengan Islam serta tidak boleh”. Pelecehan Alquran Ayat yang disinggung Gus Dur berbunyi: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertaqwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. AlBaqarah, 233).

Ayat di atas merupakan tuntunan agar seorang ibu menyusui anaknya. Lantas dimana letak kepornoannya? Jika “menyusui” dianggap porno, adakah kata lain yang lebih pas mengungkapkan aktivitas wanita yang memberikan ASI (Air Susu Ibu) kepada anaknya? Kalau pengkategorian porno dikarenakan seorang ibu harus mengeluarkan (maaf) teteknya ketika menyusui, bagaimana dengan ayat yang menjelaskan hukum bersuci sehabis buang air, karena untuk kencing juga harus membuka celana dan memperlihatkan alat kelamin? Sesungguhnya Alquran merupakan perkataan (wahyu) Tuhan yang dibukukan. Mereka yang memiliki pengetahuan tentang bahasa dan sastra Arab tentu sepakat bahwa Alquran merupakan bentuk ungkapan bahasa yang istimewa dan belum pernah ada satupun manusia yang mengungkapkan perkataan seperti itu, baik sebelum turunnya Alquran maupun sesudahnya. Seringkali ungkapan yang tertuang di dalamnya malah merupakan kiasan-kiasan yang amat indah. Misalnya, untuk menjelaskan hubungan intim suami istri Alquran mengumpamakan wanita sebagai “hartsun” atau tanah tempat bercocok tanam (QS Al Baqarah 223). Kedekatan hubungan suami istri dalam ayat lain dilukiskan sebagai “libas” (pakaian). “Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka” (QS Al Baqarah 115). Dan banyak lagi ayat lainnya yang menunjukkan keluhuran tata bahasa yang dipakai Alquran.

Semua pilihan kata yang digunakan adalah kosa kata yang baik, sopan, dan tentu saja tak satupun mengandung kepornoan. Pernyataan Gus Dur tentang kepornoan Alquran sama sekali tidak dilandasi argumentasi yang kuat. Alquran bukanlah kitab porno. Justru dalam banyak ayat tentang jilbab, Alquran jelas-jelas menentang adanya pornografi. Standar kepornoan makin tak jelas karena terhadap buku Kamasutra yang dikenal sebagai buku panduan seks, Gus Dur malah mempertanyakan kecabulannya. Diakui atau tidak, statemen Gus Dur yang menganggap Alquran sebagai kitab suci paling porno di dunia merupakan pernyataan yang berbahaya dan bisa dikategorikan pelecehan terhadap Alquran. Anehnya publik seolah mengabaikan Gus Dur begitu saja, sangat kontradiktif dengan ketegasan sikap mereka terhadap kasus-kasus pelecehan Alquran yang terjadi sebelumnya.

Misalnya pada tahun 1989, kita masih ingat bagaimana Imam Khomeini sampai mengeluarkan fatwa mati terhadap Salman Rushdi yang menggambarkan Alquran sebagai ayat-ayat setan dalam buku The Satanic Verses (hingga kini Salman dilindungi Inggris). Atau sikap kaum muslimin yang tegas tentang penghinaan terhadap fisik Alquran yang dilakukan sejumlah personil tentara AS yang membuang kitab suci umat Islam tersebut ke dalam toilet di penjara Guantanamo beberapa waktu lalu seperti dilansir Newsweek.

Buah kebebasan Dalam iklim demokrasi, kebebasan berekspresi memang merupakan salah satu perilaku yang dijamin. Artinya kebebasan tersebut merupakan sesuatu yang legal karena memang tidak ada demokrasi tanpa kebebasan. Gus Dur sendiri mungkin merasa toh dia bebas ngomong apa saja. Dan sikap diam masyarakat dalam masalah ini boleh jadi juga karena pengakuan terhadap kebebasan itu sendiri. Kebebasan berekspresi sangat dijunjung tinggi para pengagung demokrasi pada saat ini, meskipun bila kita kaji secara mendalam, tampak kesalahan fatal di sana sini. Kesalahan yang tampak jelas adalah tidak adanya standar benar dan salah yang dijadikan patokan dalam menilai pendapat seseorang. Akibatnya, semua orang bebas berpendapat apa saja, berkata apapun, dan semua pendapatnya harus diakui sejajar, seolah-olah tidak ada pendapat yang salah. Dalam perspektif Islam, tidak dikenal adanya kebebasan berpekspresi. Setiap orang terikat dengan hukum syariat. Bahkan secara tegas, Alloh menugaskan para malaikat untuk selalu mengawasi setiap ucapan manusia, seperti firman-Nya: “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkan (manusia) melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir” (QS.Qaff 18). Nabi juga memberikan tuntunan: “Siapa saja yang mengimani Alloh dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam” (HR Bukhari dan Muslim).

Ayat di atas seharusnya menjadikan umat Islam lebih berhati-hati dalam tindakan dan ucapannya, karena semuanya kelak akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Makna “khoir” (baik) dalam hadits tersebut adalah Islam atau yang bersesuaian dengan Islam. Artinya, seorang muslim tidak boleh berkata-kata atau berpendapat tentang sesuatu apapun yang bertentangan dengan Islam. Dan bila tidak bisa berucap yang baik, pilihannya adalah diam, karena memang itulah yang lebih baik. Penilaian Gus Dur tentang Alquran sebagai kitab suci paling porno di dunia, sementara di sisi lain malah mempertanyakan kecabulan buku Kamasutra, adalah sebuah kesalahan. Tidak pantas pendapat tersebut keluar dari lisan seorang muslim, apalagi mengingat Gus Dur pernah pemimpin sebuah organisasi keislaman. Tetapi bila Gus Dur tetap bersikukuh dengan pendapatnya yang salah, tidak ada pilihan lain bagi kita sebagai umat Islam untuk menasehatinya agar kembali ke jalan yang benar, kalau perlu memintai pertanggungjawaban di depan hukum. Gitu aja kok repot….

M. Ihsan Abdul Djalil

Ketua Yayasan Ibadah Network (IbadahNet)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: