Oleh: Jalod | 08/06/2009

Berani Memaafkan


Abu Abdillah al-Jadali berkata, ”Aku pernah bertanya kepada Aisyah RA tentang akhlak Rasulullah SAW. Ia menjawab bahwa beliau tidak pernah bicara dan berlaku kotor. Beliau tidak pernah mengangkat suara, sekalipun itu di pasar. Beliau tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan. Beliau pemaaf dan lapang dada.” (HR Tirmidzi dan Ahmad).

Memaafkan adalah pilihan yang cukup sulit untuk dilakukan, terutama bila berkenaan dengan kesalahan yang sangat berat dan menorehkan luka yang dalam di hati.

Padahal, tidak sedikit dalil, baik itu yang disebutkan dalam Al-Qur’an maupun yang dijelaskan langsung oleh Rasulullah SAW, yang menganjurkan sikap memaafkan orang lain.

Al-Qur’an menyebutkan bahwa memaafkan adalah perbuatan mulia. ”Tetapi, orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan.” (QS Asy-Syuura [42]: 43).

Saat bersama para sahabatnya, Rasulullah SAW pernah bersabda, ”Maukah kalian aku beri tahu sesuatu yang menyebabkan Allah memuliakan dan meninggikan derajatmu?” Para sahabat menjawab, ”Tentu, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW lalu bersabda, ”Bersabar terhadap orang yang membencimu, memaafkan orang yang menzalimimu, memberi kepada orang yang memusuhimu, dan menyambung silaturahim dengan orang yang memutuskan silaturahim denganmu.” (HR Thabrani).

Bahkan, Allah SWT berjanji akan melimpahkan rahmat dan ampunan-Nya kepada
orang yang memaafkan orang lain. Allah SWT berfirman, ”Dan, jika kamu maafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Attaghaabun [64]: 14).

Pada ayat lain, Allah SWT menjelaskan bahwa orang yang memaafkan termasuk
orang-orang yang mendapat surga seluas langit dan bumi. Allah SWT berfirman, ”Dan, orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran [3]: 133-134).

Dan, memang, memaafkan membutuhkan keberanian dan kekuatan mental yang
tidak kecil. Alih-alih terhadap orang yang bersedia memaafkan, terhadap orang yang menahan marah saja, Rasulullah SAW sudah menyebutnya sebagai orang yang pemberani. Rasulullah SAW bersabda, ”Bukan dikatakan pemberani, orang yang cepat marah. Seorang pemberani adalah yang dapat menguasai dirinya sewaktu marah.” (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, memaafkan bukanlah sikap lemah atau kalah. Memaafkan adalah sikap mulia dan ksatria. Bahkan, memaafkan adalah salah satu sifat Tuhan yang perlu kita imani dengan cara meneladaninya. Allah SWT berfirman, ”Jika kamu melahirkan sesuatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan sesuatu kesalahan (orang lain), sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Mahakuasa.” (QS Annisa [4]:149).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: