Oleh: Jalod | 29/06/2009

Hipertensi Pemicu Penyakit Ginjal


Hipertensi merupakan faktor pemicu utama terjadinya penyakit ginjal dan gagal ginjal. Sebaliknya pula, saat fungsi ginjal mengalami gangguan maka tekanan darah pun akan meningkat dan dapat menimbulkan hipertensi.
Hal itu terungkap dalam semiloka mengenai kesehatan ginjal serta kaitannya dengan hipertensi di Jakarta, Rabu (29/8). Selama ini penyakit hipertensi yang sering disebut sebagai the silent killer itu telah dikenal luas oleh masyarakat awam sebagai factor resiko yang sangat berpengaruh bagi terjadinya serangan jantung dan penyakit pembuluh darah lainnya. Namun, sebagian masyarakat belum menyadari bahwa hipertensi juga memiliki keterkaitan yang erat dengan kesehatan ginjal.
Hingga kini lebih dari 800 juta orang di seluruh dunia telah mengidap hipertensi. Kurang lebih 10-30 persen penduduk dewasa di hampir semua negara mengalami hipertensi, dan sekitar 50-60 persen penduduk dewasa dapat dikategorikan sebagai mayoritas utama yang status kesehatannya akan menjadi lebih baik bila tekanan darahnya dapat dikontrol.
Beban kesehatan global akibat hipertensi sangat besar karena merupakan factor pemicu utama dari stroke, serangan jantung, gagal jantung dan gagal ginjal. Di Indonesia, penderita gagal ginjal hingga April 2006 berjumlah 150.000 orang dan yang membutuhkan terapi fungsi ginjal mencapai tiga ribu orang.
Fungsi utama dari ginjal adalah mengeluarkan sisa-sisa metabolisme dan menjaga keseimbangan cairan dan elektrolit atau garam tubuh melalui urine atau air seni. Ginjal juga memproduksi hormon yang mempengaruhi fungsi dari organ-organ lainnya, di antaranya hormon yang menstimulasi produksi sel darah merah dan hormon yang membantu menyeimbangkan tekanan darah serta mengontrol metabolisme kalsium.
Bila salah satu factor pendukung kerja ginjal, misalnya aliran darah ke ginjal, jaringan ginjal, atau saluran pembuangan ginjal terganggu atau rusak, maka jelas fungsi ginjal akan terganggu bahkan dapat berhenti sama sekali, yang dalam hal ini disebut gagal ginjal tahap akhir, papar Dr. J. Pudji Rahardjo, SpPD-KGH, konsulen ginjal-hipertensi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), RSCM yang menjadi pembicara dalam acara tersebut.
Dia meneruskan adanya kerusakan pada bagian tertentu, terutama bagian korteks atau lapisan luar, akan merangsang produksi hormon renin yang akan menstimulasi terjadinya peningkatan tekanan darah hingga mengakibatkan terjadinya hipertensi, yang dapat menetap. Di samping itu, saat ginjal rusak maka ekskresi air dan garam akan terganggu dan mengakibatkan isi rongga pembuluh darah meningkat hingga menyebabkan hipertensi.
Naiknya tekanan darah di atas ambang batas normal bisa merupakan salah satu gejala munculnya penyakit pada ginjal, selain gejala-gejala lainnya seperti berkurangnya jumlah urine atau sulit berkemih, edema atau penimbunan cairan, dan meningkatnya frekuensi berkemih, terutama di malam hari, urainya.
Gangguan fungsi ginjal akibat hipertensi, lanjutnya, bisa berupa penyakit ginjal akut, penyakit ginjal kronis, hingga gagal ginjal di mana ginjal tidak lagi dapat menjalankan sebagian atau seluruh fungsinya. Bahkan, hipertensi merupakan penyebab kejadian gagal ginjal tahap akhir nomor dua terbanyak setelah diabetes mellitus.
Pada gagal ginjal tahap akhir, pasien harus menjalankan hemodialisis atau cuci darah seumur hidupnya, atau dilakukan transplantasi ginjal. Bagaikan siklus ayam dan telur, hipertensi kemudian juga muncul pada penderita gagal ginjal, bahkan merupakan masalah yang paling sering terjadi pada pasien hemodialisis. Banyak penelitian menunjukkan, hipertensi adalah salah satu factor resiko meningkatnya kematian pada pasien hemodialisis, ujarnya.
Untuk menghindari terjadinya penyakit ginjal pada pasien dengan hipertensi, menurut Pudji, langkah-langkah yang harus dilakukan di antaranya adalah dengan mengukur tekanan darah secara rutin dan mempertahankannya pada batas normal yakni di bawah 120/80. Jika hipertensi berhasil dikontrol, maka resiko terjadinya komplikasi seperti penyakit ginjal kronis akan menurun.
Melihat kompleksnya permasalahan yang ditimbulkan penyakit hipertensi, penanggulangan masalah hipertensi baik yang sifatnya pencegahan (preventif) maupun pengobatan (kuratif) harus melibatkan pendekatan menyeluruh agar menunjukkan tingkat keberhasilan yang memuaskan. Tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan cara menjalankan gaya hidup sehat dengan cara menjaga berat badan normal, mengurangi konsumsi sodium (garam), banyak berolahraga, menghindari produk tembakau dan alcohol, dan membatasi kafein.
Sementara proses pengobatan harus diiringi dengan kepatuhan minum obat secara teratur seperti dianjurkan oleh dokter. Dengan banyaknya jenis obat antihipertensi yang beredar di pasar, baik obat bermerk ataupun generic, masyarakat harus memiliki pemahaman yang semakin baik tentang penyakit yang mereka derita, serta jeli dalam memilih penanganan yang tepat.
Bagi pasien hipertensi yang disertai kerusakan ginjal, untuk mencapai target tekanan darah ideal 130/80 mmHg maka dibutuhkan pengobatan dengan lebih dari satu macam obat antihipertensi, jelas Pudji.
Amlodipine Besylate, obat antihipertensi golongan Calcium Channel Blocker (CCB) telah menunjukkan bukti-bukti klinis yang baik pada pasien hipertensi. Selain itu, dia menambahkan, pada penelitian ASCOT BPLA yang melibatkan lebih dari 19000 pasien hipertensi dengan resiko tinggi, Amlodipine based regimen terbukti menurunkan kejadian kerusakan ginjal sebesar 15% dibandingkan Atenolol based regimen.
Ini membuktikan bahwa kombinasi CCB dengan ACE inhibitor adalah kombinasi yang ideal untuk pasien-pasien hipertensi dengan resiko tinggi, terutama untuk mencegah kerusakan ginjal, imbuhnya. (cr5)

Jakarta, Pelita

Iklan

Responses

  1. hai salam kenal artikelmu udah ada di

    http://penyakit.infogue.com/hipertensi_pemicu_penyakit_ginjal

    gabung yuk n promosikan artikelmu di infoGue.com. Salam.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: