Oleh: Jalod | 24/07/2009

Cara Lain Mengejar Sukses


SUKSESNYA seseorang memang tidak dapat diukur secara pasti. Karena kesuksesan itu sangat relatif. Namun salah satu ukuran kesuksesan yang lumrah digunakan sebagian orang, adalah kemapanan ekonomi dan kepopuleran. Walaupun barometer tersebut sebenarnya belum tentu benar.

Seiring dengan ukuran ekonomi dan populer yang hidup dalam pergaulan masyarakat itulah, maka setiap orang berlomab-lomba mengejarnya. Dan seiring waktu berjalan, pola pikiran dan kondisi kehidupan pun berubah. Dimana untuk meraih kesuksesan itu tidak semata-mata meniti pendidikan formal (misalnya sampai jadi sarjana), tapi banyak moda lain yang dapat digunakan. Salah satu cara yang saat ini sedang tren di Indonesia, adalah mengikuti audisi-audisi, dari audisi bintang iklan, bintang sinetron, penyangi, sampai pelawak.

Berduyun-duyunnya orangtua mengikuti anaknya audisi-audisi itu, dimaklumi, mengingat yang demikian itu dinilai cara pintas untuk meraih kesuksesan, terutama bidang ekonomi dan kepopuleran. Bakat tampaknya bukan lagi harga mati yang bisa ditonjolkan untuk membayar popularitas. Para orangtua rela merogoh kocek demi satu kata “beken” menjadi bintang. Mampukah anak yang notabene masih berusia dini membayar pengorbanan tersebut?

Membujuk Anak
“Apakah Anda berbakat dalam dunia seni peran, berobsesi menjadi artis? Buktikan kemampuan Anda dengan mengikuti ajang bergengsi AUDISI MENUJU BINTANG. Pendaftaran terbuka untuk umum, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa”. Barisan iklan tersebut menjadi penghipnotis para orangtua yang ingin menjadikan anaknya terkenal. Tak perduli, sang anak yang notabene belum tahu makna kesuksesan, diikutkan. Muka divermak dengan olesan bedak, berpakaian mewah dengan rentetan aksesoris pemikat. Satu yang ingin dituju, menang, diorbitkan, ujung-ujungnya duit mengalir.

“Siapa sih yang tidak ingin terkenal. Memang mulanya anak tidak mau, tinggal bagaimana cara kita membujuk saja, Untungnya jika bakat ada malah keranjingan,” kata Pera (34). Putranya Toni (10) saat ini malah keranjingan di pentas audisi. Berpindah dari satu mal ke mal lainnya menjadi agenda rutin pengisi liburan.

Terkadang menang. Jika kalah akan diuntungkan dengan pengamalan. Diakui dengan pengalaman gaya melenggang di panggung semakin mantap. “Biasanya anak kalau pertama kali ikut audisi sering malu saat dipanggil naik pentas. Tapi kalau jalannya pede lihat kamera langsung berpose, itu tandanya anak kaya pengalaman,” kata Pera. Satu obsesi yang belum tercapai menembus hingga pentas di Jakarta.

Hal senada diungkapkan Wita (38). Ibu dua anak ini getol mengikutkan anak dalam kancah audisi supaya terkenal. Namun baginya guliran uang bukan alasan utama. Itu hanya faktor pendukung. Anak ikut audisi agar terkenal lalu kemampuannya dihargai. “Justru modal yang saya keluarkan kerap lebih besar dari hadiah juara. Misal dapat uang Rp 5 juta, kalau dihitung buat beli pakaian, aksesoris, sepatu bisa lebih dari itu. Yah balik modal kalau tidak menang melayang. Itu resiko. Justru yang penting kemauan anak, mau atau tidak,” kata ibu yang suaminya tercatat sebagai karyawan PT PUSRI Palembang. Beberapa kali ikut audisi, secara tersirat, Wati mengaku pernah ditawari para agency jika ingin menang ada prasyarat mutlak yang wajib dipenuhi.

“Dimintai uang kemenangan pernah, tapi langsung ditolak. Untuk apa cara itu. Toh yang penting bakat,” kata Wati seraya mengakui budget satu kali audisi minimal Rp 1 juta. Terkadang ketika sampai di Jakarta, waktu sekolah anak menjadi terbengkalai. Izin sana sini akhirnya malah kalah. “Kalau ku sih,waktu audisi tak boleh menganggu belajar. Paling saat libur saja anak diikutkan audisi,” katanya.

5 Kunci
Fenomena ini terkadang menyisahkan tanya. Mengapa begitu banyak anak-anak berebut ambil jatah untuk audisi jadi selebriti. Lihat aja, bukan cuma rela berkeringat dan pegal menunggu giliran audisi. Tetapi begitu semangat ketika memamerkan keahliannya menyanyi, modeling dan tentu bergaya di depan juri audisi.

Para orangtua dan anak dijanjikan ketenaran dan kekayaan. Impian akan dikontrak. Padahal tak jarang impian tak sesuai dengan kenyataan. Bekti Rusdianto, owner Q Pro Production mengungkapkan fakta tersebut. Ia menjelaskan sebetulnya tidak ada jaminan hidup sama sekali jika seseorang menyemplungkan diri di dunia hiburan sekedar coba-coba. Apalagi jika dia tidak punya kelebihan mumpuni (andal,red). Mereka hanya dibayar kalo ada manggung. Itu pun kecil sekali, dan tidak menentu. Buruh pabrik yang gajinya Rp 900.000 jauh lebih sejahtera daripada mereka.

Kuncinya yang penting totalitas mau berkorban, motivasi maju, performance bagus dan kedispilinan,” kata Bekti. Ia mengatakan, lima kunci itu harus dipegang yang berlaku untuk semua, baik anak-anak dan dewasa. Bekti yang hampir 15 tahun berkutat dalam dunia modeling mengatakan tidak ada porsi khusus bagi anak dan dewasa dalam dunia keartisan. Semua duduk rata. Siapa yang berbakat itu yang unggul. Siapa yang ogah-ogahan terpuruk. “Tak ada beda antara anak-anak dan dewasa, yang penting disiplin,” kata Bekti yang Minggu (19/7) hari ini akan menggelar pemilihan cewek dan cowok idola 2009 di Palcomtech.

Memanfaatkan Obsesi Ortu
Lalu bagaimana proses perekrutan yang berjalan selama ini, Bekti mengaku masih banyak EO yang memanfaatkan obsesi orangtua untuk menarik keuntungan. Itu diistilahkan dengan SP (Sponsor). Biasanya, lanjut Bekti, orangtua rela menjadi sponsor tunggal suatu even atau audisi demi memenangkan anaknya yang duduk sebagai peserta. Semua budget acara ditanggung dengan dalih pengeksposan hingga ke Jakarta.

“Kan sama saja bohong, acara demi memenangkan orang yang sudah jelas. Enak kalau bakatnya ada jika tidak malu. Umumnya banyak orang tua yang model anak mau melakukan ini,” kata Bekti. Ada lagi, istilah bayar juara. Ini terjadi jika orang tua bersedia membayar harga yang ditawarkan panitia jika anaknya ingin menang sebagai prasyarat. “Memang ujung-ujungnya duit dan pastinya bisnis ini menggiurkan. Makanya saya himbau para orang tua jangan mau menjadi korban EO kotor seperti itu,” kata Bekti.

Kondisi seperti ini terjadi lantaran ada kesempatan. Tanpa pikir panjang biasanya orang tua langsung menyetujui. Mereka berpikir di Jakarta bakat anak akan berkembang. Impian tak sepenuhnya menjadi nyata. Menang di tingkat Palembang, lanjut Bekti, para jawara harus bersaing lagi dengan anak di ibukota. Jika diprosentase hanya 10 persen saja yang gol menjadi artis. Sisanya tinggal gigit jari. “Bakat bukan andalan utama, kelebihan apa yang dipunya wajib ditonjolkan, mungkin itu kunci sukses ke Jakarta,” katanya. Selama ini para model atau jawara, setelah melenggang ke Jakarta, apalagi anak-anak kerap sampai babak pada babak casting menjadi patah arang. Mereka terkendala logat bahasa dan jarak. “Ketika sudah lulus terkendala jarak tapi kalau saat casting terkendala logat,” katanya.

Sekali lagi, Bekti berpesan utamakan kejelian sebelum ikut audisi. Jangan mau dimintai bayaran atas nama sponsor. “Murni dan main bersih saja. Namanya bintang pasti sinarnya akan keluar meski dia berada dalam tumpukan sampah sekalipun,” katanya. (Sriwijaya Post -sta)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: