Oleh: Jalod | 21/08/2009

Puasa Adalah Pembukti Iman


Ketika saya kecil, saya sering menyaksikan ibu menghidangkan makanan buat pekerja bangunan yang bekerja di rumah, padahal saat itu adalah bulan Ramadhan. Saya bertanya kepada beliau,

“Bu, kenapa Ibu menghidangkan makanan buat mereka? Bukankah sekarang bulan puasa?”
“Mereka tidak puasa, Nak.” Ibu menjawab.
“kenapa?” saya bertanya.
“Mereka adalah pekerja berat, dan mereka diperbolehkan tidak berpuasa dengan menggantinya di hari yang lain,” demikian ibu menjelaskan.
“Kenapa Ibu tidak memperkerjakan mereka nanti saja setelah lebaran?” saya bertanya penuh selidik.
“Mereka butuh kerja untuk menghidupi keluarganya.” Ujar Ibu memberi penjelasan kepada saya.

Saya merasa kasihan kepada mereka pekerja bangunan itu sebab dengan pekerjaannya itu mereka jadi memilih untuk tidak berpuasa. Saya yang kecil waktu itu tidak berfikir jauh tentang nasib keluarga andai mereka tidak bekerja di bulan Ramadhan. Pikiran saya alangkah sayangnya jika orang tidak bisa berpuasa di bulan Ramadhan.

Tahun-tahun berikutnya, perjumpaan saya dengan orang-orang yang merasa berat untuk berpuasa seperti tukang becak, sopir, kuli di pasar, buruh tambang dan lain-lain, menanamkan suatu pembenaran bahwa mereka adalah orang-orang yang diperbolehkan untuk mengganti puasa di hari lain.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya mulai menyaksikan bahwa ternyata ada orang-orang tertentu yang sanggup berpuasa meski mereka bekerja dengan mengeluarkan banyak tenaga. Seperti pemain basket, pemain sepak bola, sopir, tukang becak, pekerja di pasar, dan lain-lain.
Saya pernah memiliki tetangga dan menjadi jamaah masjid Al Amanah di komplek saya. Namanya Joel. Ia adalah pedagang di Pasar Kramat Jati yang menggelar dagangan secara berpindah-pindah. Saya menaruh sebuah kekaguman. Selain rajin menjalankan shaum di bulan Ramadhan, ia juga rajin menjalankan puasa Daud di luar bulan Ramadhan. Padahal bekerja di pasar bagi seorang seperti Joel yang berpindah-pindah menenteng barang dagangan, menggelar di tempat yang ramai, dan berteriak menawarkan dagangan, adalah pekerjaan yang mengguras energi. Namun toh, ia pantang menyerah membatalkan puasanya.

Apa yang menjadikan Joel tetap bisa berpuasa meski jenis pekerjaan yang dijalaninya menguras cukup banyak tenaga? Tidak lain adalah iman. Spirit Ramadhan membangkitkan keimanannya sehingga ia betul-betul merasakan makna bersungguh-sungguh dan berkorban dalam menjalani ketaatan.

Lebih jauh saya mulai merenung bahwa memang sejatinya risalah shaum Ramadhan diperuntukkan buat orang-orang yang beriman. Imanlah yang menjadi alasan utama seseorang kuat menjalankan puasanya atau tidak. Adapun faktor lain, seperti sakit, musafir, hamil, atau menyusui sifatnya adalah kondisional. Dikatakan dalam sebuah hadits: barang siapa yang berpuasa dengan keimanan dan hanya mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosa yang lalu (HR Bukhari).

Allah memberikan perintah puasa kepada ummat saat ini dan juga kepada ummat-ummat sebelumnya. Bahkan dikatakan oleh seorang ustadz bahwa setiap nabi yang diutus kepada kaum, maka ia pasti membawa perintah untuk berpuasa. Jadi secara wahyu, puasa adalah ibadah kemanusiaan, artinya sanggup dilakukan oleh manusia dalam kondisi yang normal. Hal ini selaras dengan firman-Nya yang menegaskan bahwa Dia tidak memberikan beban kepada seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (2:286).

Meski manusia tidak makan di siang hari, mereka memiliki simpanan energi yang cukup untuk beraktivitas hingga waktu buka puasa tiba. Selain itu fakta medis juga mengungkap bahwa justru dengan puasa, maka penyakit-penyakit tertentu bisa dikurangi dan disembuhkan. Sangat singkron dengan sabda Nabi Saw : berpuasalah kamu niscaya kamu akan sehat.

Orang bisa mengatakan dirinya sakit, merasa khawatir, lemah, sehingga ia boleh mengganti puasanya. Namun masalah iman, tidak seorang pun yang mengetahui akan kondisi sejatinya melainkan Allah Swt. Oleh karenanya, benarlah jika dikatakan bahwa puasa adalah urusan hamba dengan Rabb-nya. Setiap pahala ibadah sudah ditentukan besar ganjarannya kecuali puasa. Sesungguhnya puasa adalah untuk Allah dan Allah sendiri yang akan menentukan ganjarannya. Sangat nyata bahwa ibadah puasa adalah ibadah yang mengandalkan kekuatan iman. Dialah yang amat menentukan apakah seseorang kuat menjalani ibadah puasa atau tidak.

Boleh jadi puasa adalah ujian, khususnya bagi mereka yang bekerja menguras tenaga. Mereka yang bekerja kepayahan, sama-sama diwajibkan berpuasa seperti pekerja kantoran yang bekerja nyaman di ruangan ber-AC. Namun yang bekerja di ruangan ber-AC pun jangan merasa bebas dari ujian. Kenyamanan sering melenakan orang sehingga justru mendorong kepada kecerobohan.

Boleh jadi, itulah hikmahnya mengapa Allah akan membalas sendiri pahala puasa seorang hamba. Pahala itu tentu bukan sekedar bergantung pada kuantitasnya atau dhahirnya, melainkan berbanding lurus dengan keimanan yang dipersembahkannya. Bagi mereka yang ikhlas dan bersabar, tentu akan mendapat anugerah besar dari Rabb mereka.

Siapapun kita, hendaknya menerima ibadah puasa dengan lapang dada. Masing-masing kita memiliki ujian. Dan masing-masing kita akan diberikan pahala dengan seadil-adilnya.

Waallahua’lam bishshawaab
muhammadrizqon.multiply.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: